Kampung Bena di Bajawa adalah salah satu dari desa tradisional Flores yang masih tersisa meninggalkan jejak-jejak budaya megalit yang mengagumkan. Desa ini lokasinya hanya 18 km dari kota Bajawa di Pulau Flores.
Kota Bajawa yang terletak di cekungan seperti sebuah piring yang dipagari barisan pegunungan. Kota ini banyak dikunjungi wisatawan dengan cuacanya yang cukup dingin, sejuk, dan serta pemandangan yang berbukit-bukit.
Kehidupan di Kampung Bena dipertahankan bersama budaya zaman batu yang tidak banyak berubah sejak 1.200 tahun yang lalu. Di sini ada 9 suku yang menghuni 45 unit rumah, yaitu: suku Dizi, suku Dizi Azi, suku Wahto, suku Deru Lalulewa, suku Deru Solamae, suku Ngada, suku Khopa, dan suku Ago.
Pembeda antara satu suku dengan suku lainnya adalah adanya tingkatan sebanyak 9 buah. Setiap satu suku berada dalam satu tingkat ketinggian. Rumah suku Bena sendiri berada di tengah-tengah. Karena suku Bena dianggap suku yang paling tua dan pendiri kampung maka karena itu pula dinamai dengan nama Bena.
Umumnya warga suku-suku di Bena bermata pencaharian sebagai peladang dengan kebun-kebun menghijau tumbuh di sisi-sisi ngarai yang mengelilingi kampung. Untuk berkomunikasi sehari-hari mereka menggunakan bahasa Ngada. Hampir seluruh warga Kampung Bena memeluk agama Katolik namun tetap menjalankan kepercayaan leluhur termasuk adat dan tradisinya.

Lokasi Kampung Bena
Jarak kampung bena kurang lebih 19 km dari pusat kota Bajawa, ibukota kabupaten Ngada. Untuk mencapainya, bisa ditempuh dengan menggunakan kendaraan darat. Walau jalurnya sudah relatif baik, namun Anda tetap dituntut memiliki keahlian mengemudi yang mumpuni guna menaklukkan jalan berkelok dan naik turun.
Jika Anda berangkat dari Kupang, maka bisa melanjutkan perjalanan dengan menggunakan jasa travel ke kota Bajawa. Sampai di kota Bajawa, Anda bisa melanjutkan perjalanan ke Bena menggunakan ojek dengan waktu tempuh kurang lebih setengah jam.
Sementara, jika Anda baru saja berwisata ke Danau Kelimutu di kota Ende, maka Anda bisa menggunakan jasa travel atau bis jurusan Ende-Bajawa, kemudian turun di Mataloko, yang disambung dengan ojek menuju Kampung Bena.
Kampung ini dibuka untuk para pelancong mulai pukul 08.00 sampai 17.00 WITA. Ketika masuk, Anda cukup mengisi buku tamu dan memberikan donasi seikhlasnya. Donasi sebaiknya menggunakan uang kertas karena uang koin tidak digunakan oleh masyarakat Kabupaten Ngada.
Karena lokasinya yang relatif terpencil, Anda tidak bisa menemukan penginapan di sekitar perkampungan Bena dan tidak bisa camping di sembarang tempat. Para wisatawan biasanya memilih menginap di Bajawa karena jarak tempuh ke kampung Bena tidak jauh. Jika menginap di Bajawa, pastikan Anda membawa pakaian hangat karena suhu di kota Bajawa cukup dingin terutama di malam hari.

Keunikan Arsitektur Rumah Adat
Kampung adat Bena adalah salah satu destinasi cantik yang jadi idaman para turis yang datang ke Flores. Kampung ini terkenal karena masuk dalam kampung tertua di Nusa Tenggara Timur yang masih mempertahankan adat istiadat bahkan rumah adat mereka.
Terletak di kaki Gunung Inerie (2.245 mdpl), atau tepatnya berada di Desa Tiworiwu, Kecamatan Aimere, kampung yang memanjang dari utara ke selatan ini terkenal dengan rumah adat Bena dan tradisi nenek moyang mereka.
Kampung adat Bena memiliki arsitektur rumah tradisional yang unik dan seratus persen alamiah. Rumah-rumah yang berdiri di kampung tersebut terbuat dari susunan batu gunung dengan atap dari alang-alang. Keunikan dan kealamian bahan bangunan rumah adat ini mampu membawa kampung adat Bena bertahan dari sisa megalitikum, sehingga menciptakan kampung adat yang unik yang kaya akan nilai sejarah dan budaya.
Rumah adat kampung Bena memiliki filosofi yang menarik. Pada area halaman tengah kampung terdapat Nga’du dan Bha’ga. Nga’du merupakan sebuah tiang kayu memanjang yang diukir dengan motif satwa yang kedua tangannya memegang parang dan tombak. Ini merupakan simbol nenek moyang laki-laki. Sementara Bha’ga merupakan representasi dari nenek moyang perempuan dari suku tersebut. Bentuknya menyerupai miniature rumah. Keduanya merupakan simbol dari kekerabatan antara leluhur dan generasinya.
Itu dia ulasan seputar kampung Bena, termasuk rumah adatnya yang unik. Jika Anda ingin memiliki rumah subsidi di Serang, kunjungi Graha Dalung. Semoga informasi ini bisa menjadi wawasan menarik serta bermanfaat untuk Anda.